Adanya Toxic Culture di Kantor? Mitos atau Fakta?

Tahukah kalian bahwa toxic culture yang sering diisukan di kantor-kantor perusahaan dapat memberikan efek negatif bagi para pekerja.

Berdasarkan hasil survei Deloitte:  Gen Z & Millennial 2023 Survey hampir separuh dari Generasi Z (46%) serta 4 dari 10 Generasi Millennial merasa pekerjaan yang mereka lakukan membuat mereka rentan terhadap stress. Hal tersebut tanpa disadari dipicu oleh kebiasaan atau kultur di kantor-kantor yang cenderung membuat para pekerja pemula tidak nyaman. 

Tenaga kerja pemula terutama Gen Z kerap kali dicap sebagai ‘kutu loncat’ di dunia kerja. Mereka cenderung sering berpindah-pindah pekerjaan dan dianggap tidak betah berlama-lama di sebuah kantor. Namun, bukan tanpa alasan gen Z langganan resign atau mengundurkan diri.

Sebab bagi gen Z, budaya kerja yang tidak sehat (toxic) dianggap bisa memicu stress, namun juga menyebabkan menurunnya performa serta produktivitas dari masing-masing tenaga kerja. 

Toxic culture di dunia kantor bisa berdampak pula pada kesehatan fisik. Contohnya saja tubuh jadi rentan lalu mudah terkena penyakit. Sebuah studi yang menganalisis 13 tahun catatan pekerjaan di AS menemukan bahwa "pekerjaan dengan jadwal lembur terkait dengan tingkat bahaya cedera 61% lebih tinggi.” 

Penasaran tidak dengan tanda-tanda toxic culture pada dunia kantor? Berikut contohnya:

  1. Atasan yang narsistik
    Menurut Forbes, atasan yang narsistik cenderung ingin merasa benar dan tidak suka diberi masukan oleh timnya. Misalnya walaupun sudah mengambil suatu keputusan yang seringkali dibuat secara sepihak, mereka akan bersikukuh bahwa apa yang mereka tetapkan tersebut telah bulat. Sedangkan, kadang kita perlu adanya sudut pandang lain guna mencapai kesuksesan dalam pekerjaan kantor.

  2. Demotivasi pada karyawan
    Dilansir dari artikel Kemenkeu, demotivasi merupakan suatu perasaan di mana kita merasa letih, kehilangan semangat, bahkan menyerah dalam bekerja. Biasanya, itu terjadi karena kita merasa yang kita usahakan tidak juga maksimal atau justru karena sedang berada di titik burnout saja.

  3. Gosip menjadi hal yang lumrah


    Menyebarkan gosip adalah tindakan yang paling tidak profesional di tempat kerja. Menurut sebuah survei yang dilakukan oleh Dawn Fay, seorang presiden operasional di Robert Half, ditemukan bahwa para kolega di kantor yang berbicara secara lantang dan gosip antara satu sama lain adalah hal yang paling menjengkelkan di kantor. 

Psikolog Dr. Katrina Gisbert-Tay menyampaikan bahwa keputusan resign bukan lah obat dari segala masalah kantor. Mengundurkan diri bisa jadi merupakan solusi terbaik dalam beberapa situasi, misalnya, kultur di tempat kerja yang toxic. Namun, berhenti dari pekerjaan bukan satu-satunya pilihan.

Jadi,  kira-kira fakta atau mitos ya toxic culture di perkantoran itu?

Jawabannya tentu saja fakta kalau adanya kultur toxic di dunia kantor. Namun, bisa dihadapi dengan menjalin komunikasi yang sehat dan efektif dengan rekan atau atasan, menjaga keseimbangan antara karir dan personal, serta jadi pribadi yang suportif. Dapat disimpulkan kalau kemunculan toxic culture benar-benar mengganggu aktivitas kantor di berbagai aspek. Apa di kantor kalian terdapat tanda-tanda serupa?

TIdak usah ambil pusing karena work culture pada kantor seperti yang dibicarakan di atas akan sangat ampuh untuk diatasi apabila kita mendapat panduan dari pihak yang terpercaya.

Salah satu cara terbesar untuk dapat mencegah Toxic Culture adalah dengan meningkatkan masukan dari para pekerja. Dari sinilah, PT. Mitra Utama Madani (MUM) memanfaatkan solusi teknologi untuk mendapatkan informasi dan umpan balik real-time ke dalam perusahaan. Hal ini berorientasi untuk membantu para pekerja, dan menavigasi permasalahan menjadi kolaborasi.

Penguatan digitalisasi dalam proses kerja, dimaksimalkan oleh MUM, dibuktikan dengan terus berkembangnya platform komunikasi melalui website MUM.id dan mengimplementasikan digitalisasi proses operasional, asset management, learning & development.

MUM berkomitmen menguatkan kerangka tata kelola perusahaan yang baik Good Corporate Governance – (GCG). Penerapan GCG di PT MUM tidak hanya sesuatu yang bersifat mandatory, tetapi sudah menjadi budaya dan kebutuhan dalam aktivitas bisnis dari manajemen puncak hingga pekerja di lapangan.

Dalam hal ini salah satu prinsip GCG yang relevan adalah prinsip kewajaran (fairness). Kesetaraan dan kewajaran di dalam memenuhi hak-hak stakeholder yang timbul berdasarkan perjanjian dan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penerapan prinsip Tata Kelola Perusahaan yang baik dapat berkontribusi dalam peningkatan kinerja perusahaan.  MUM percaya hal tersebut merupakan langkah awal yang sangat penting dalam upaya mengeliminasi Toxic Culture di tempat kerja. 

MUM sebagai perusahaan penyedia jasa  tenaga alih daya,  terus berjuang untuk membangun budaya tempat kerja yang sehat dan positif, demi terciptanya perusahaan yang sehat dan sustainable dalam mencapai sasaran bisnis. Berangkat dari sini, MUM fokus dalam pengembangan karyawan dalam hal meningkatkan kompetensi technical dan soft skill manajemen, menyelenggarakan program pelatihan berjenjang dan berkelanjutan, konseling karyawan, serta sertifikasi kompetensi yang berlisensi, untuk menjamin kualitas tenaga kerja. 

Untuk memperkaya wawasan kalian terkait dunia kerja dan tips karir, yuk pantengin terus artikel terbaru mum.id!